Beras/nasi,seperi yang kita ketahui beras/nasi merupakan makanan pokok bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia.Tapi,bagaimana bila beras/nasi yang merupakan makanan pokok itu tidak bisa di nikmati bagi hampir seluruh penduduk miskin di Indonesia ?Nasi aking pilihannya.Memang mengecewakan,tapi itulah nasib yang di alami saudara kita yang kurang mampu.
Tapi,tetap saja banyak saudara kita yang kurang mampu untuk membeli beras yang menyehatkan dan juga murah itu.Dan sebagai alternatif mereka memilih mengolah dan memakan nasi aking

Begitu berat nya masalah sosial yang di alami saudara kita yang kurang kurang mampu.Tapi di mana pemerintah atau pemimpin-pemimpin saat saudara kita mengalami nasib seperti ini? Sedih melihat prilaku para pemimpin dan wakil rakyat kita, yang ketika masa kampanye menghambur-hamburkan uang milyaran rupiah serta mengatasnamakan rakyat dan mengagungkan demokrasi, tetapi pada saat rakyat membutuhkan bantuan “hanya untuk sekedar bertahan hidup saja” tidak langsung diselesaikan, dimana pemimpin dan wakil rakyat itu? Di tengah penderitaan rakyat, mereka dengan asyik berfoya-foya seakan-akan tidak terjadi apa-apa dengan rakyat. Mereka tetap bisa ke kantor dengan mobil mewah dengan iring-iringan pengawal dan tiap hari makan dengan uang tunjangan. Yang menyedihkan lagi, begitu ada bencana dan musibah itu disorot media, para korban menjadi ajang kepentingan politik. Ramai-ramai mereka berlomba-lomba membantu. Tapi kalau tidak disorot, mereka tak mau menjangkau. Di mana fungsi negara untuk melayani rakyat?
Negeri ini sebenarnya mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya dengan baik, karena terbukti kita dapat melakukan swasembada beras pada tahun 1980-an. Negeri ini memiliki sumberdaya alam yang melimpah dan ditambah dengan bibit unggul yang dihasilkan, pupuk, dan teknologi yang ada. Tinggal bagaimana keseriusan pemerintah dalam mengelolanya. Produksi padi pada tahun 2006 ditaksir sekitar 54 juta ton (BPS: Indikator kunci Indonesia , 2007). Jika saja ini didistribusikan secara baik kepada sekitar 230 juta penduduk Indonesia, dan dengan asumsi susut 10% dalam pengolahan dari padi ke beras, maka setiap orang akan memperoleh 580 gram beras/hari. Ini belum ditambah lagi dengan stok impor beras yang dilakukan BULOG sebesar 1,5 juta ton dari Vietnam dan Thailand . Jadi jumlah beras menjadi lebih banyak lagi. Namun, ternyata banyak terjadi kasus kelaparan dan gizi buruk terjadi.
Bila ini terus berlanjut, rakyat akan makin menderita. Nasi aking pun menjadi makanan sehari-hari warga miskin finansial yang pada umumnya tidak tahu harus berbuat apa karena memang memiliki ilmu pengetahuan dan kreatifitas yang rendah untuk bisa keluar dari jebakan setan yang mereka hadapi. Mereka harus bergantung pada diri sendiri, tak ada yang melindungi. Kalau sudah begitu, yang kuat akan menang, yang lemah akan terlindas. Ini sama saja dengan hidup di dalam hutan. Sepertinya negeri ini mengalami krisis kepemimpinan.
Terlepas dari itu,ada baik nya mulai saat ini kita biasakan untuk menyantap habis nasi yang sudah kita ambil.Setidaknya sikap bijak ini bisa mencegah terhamburnya beras secara percuma.Sehingga kelak saudara kita yang kurang mampu tidak perlu menyantap nasi aking lagi.